Sore itu, suasana di Lapangan Marindal Pasar 3—atau yang lebih akrab dikenal oleh warga sekitar sebagai Lapangan Pespa—sudah mulai memanas. Saya berdiri di pinggir lapangan, bersiap dengan kamera di tangan untuk mendokumentasikan perjuangan skuad Diutara United yang dijadwalkan bertanding melawan Tombak Sakti. Sebagai fotografer tim, tugas saya adalah memastikan setiap tetes keringat, ketegangan, dan perayaan terekam sempurna dari balik lensa.
Namun, seperti halnya sepak bola yang penuh kejutan, drama hari itu justru dimulai jauh sebelum peluit babak pertama dibunyikan.
Waktu Molor dan Ujian Kesabaran Jadwal kick-off yang sudah disepakati terpaksa molor berantakan. Alasannya cukup membuat kami di pinggir lapangan mengelus dada: wasit yang seharusnya memimpin pertandingan tiba-tiba membatalkan kehadirannya (cancel) secara sepihak.
Bagi sebuah tim, penundaan waktu seperti ini tentu sangat menyebalkan. Ritme pemanasan yang sudah dibangun bisa terganggu, dan mood pemain rentan turun. Saya pun harus bersabar menjaga mood memotret sambil sesekali mengambil gambar candid raut wajah para pemain yang mulai jengah menunggu kepastian.
Tiga Gol Tanpa Balas Beruntung, mental anak-anak Diutara United tidak mudah goyah oleh urusan teknis semacam ini. Begitu masalah wasit teratasi dan pertandingan akhirnya dimulai, mereka langsung melampiaskan rasa geregetan tersebut ke dalam permainan yang agresif dan taktis.
Dari balik viewfinder kamera, saya bisa melihat dominasi penuh dari Diutara United. Tombak Sakti dipaksa kerepotan meladeni serangan demi serangan. Hasilnya sangat memuaskan:
Fokus Terjaga: Meski jadwal mundur, konsentrasi pertahanan Diutara United sama sekali tidak kendor, membuat gawang tetap bersih (clean sheet).
Ketajaman Lini Depan: Tiga gol bersarang di gawang Tombak Sakti, memicu selebrasi meriah yang sukses saya abadikan dalam beberapa jepretan burst andalan.
Akhir yang Manis Pada akhirnya, rasa lelah dan jengkel akibat menunggu wasit terbayar lunas. Kemenangan telak 3-0 atas Tombak Sakti menjadi bukti bahwa Diutara United punya mental juara yang tidak mudah dirusak oleh faktor eksternal. Di sisi lain, memori card saya pulang dengan membawa ratusan foto ciamik yang siap dipamerkan di media sosial tim.
Drama boleh ada, tapi kemenangan tetap milik Diutara United.
